Zaujaty Habiebaty

Saya selalu bersyukur karena dibesarkan di keluarga yang sangat sangat sangat hangat

😀

Kali ini saya akan bercerita tentang adik saya satu-satunya.

Adik saya itu orangnya sangat moody, suka ngambek dan nangis tapi sangat care dengan kakaknya yang ceroboh ini, hohohoho

saya merasa saya dan Kiki (adik saya ini) dibesarkan dengan sedikit sekali sibling rivalry, yah,,mungkin sekali dua kali lah bertengkarnya tapi overall kita rukun rukun saja 😀

ketika saya hamil dan mengekos dengan dia pun (suami masih di kuliah di luar), adik saya ini yang selalu bilang bahwa dia akan jadi “suami siaga” dan siap selalu disebelah saya. Meskipun terkadang dia sering pulang malam karena kesibukan kuliahnya ataupun organisasi, saya menghargai upayanya. 😀

Kiki dan saya sering juga curhat, tidak memaksa satu sama lain, tetapi membiarkan yang lain bercerita. Kadang juga Kiki tidak bercerita apa2 tetapi mukanya sedih dan saya berusaha menghiburnya entah dengan cara apa. Saya pun kadang pulang dengan sedih dan Kiki tidak mengganggu dengan menanyakan “mbak kenapa?”. Ia lebih diam dan berusaha melucu, dan sungguh usahanya itu membuat saya terharu.

Seperti saat itu ketika saya pulang kerja dan merasa sangat-sangat-sangat lelah, fisik dan mental. Kiki tidak menanyakan apapun, tapi saya yakin dia tahu. Karena tiba2 saya mendengar dia melucu yang (agak) garing dan bercerita apapun tentang kuliahnya.

Saya terharu dengan perhatiannya.

Esoknya, ketika saya akan berangkat kerja, seperti biasa, Kiki selalu mengingatkan:

“Mbak sudah bawa masker?”

“Sudah!”

“Charger Hp n Laptop?”

“Sudah!”

“Kunci kamar?”

“Sudah!”

“Bahan2 kerja?”

“Sudah!”

(Kiki terbiasa mengingatkan barang2 yang harus saya bawa ketika akan kerja karena tahu saya cukup ceroboh 😀 )

“Apa lagi yang belum ya, mbak?”

Saya memandang wajahnya lama. Melihat adik saya yang mondar-mandir melihat kamar takut kalau2 ada barang-barang saya yang belum dibawa.

“Hm,,,ki?”

“Apa?”

“Mbak boleh minta peluk?”

Kiki, yang biasanya menolak kalau saya minta peluk, kali ini mengembangkan tangannya dengan tersenyum lebar.

“Sini, mbak..”

Ketika saya dipelukannya, dia berbisik yang membuat saya sangat terharu “Mbak yang kuat yah”

😀

-sungguh awal yang manis untuk memulai hari ini-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s